Selamat Datang di Elearning Faqih.Net

Blog Elearning Faqih.Net adalah blog media e-learning. Siapapun bebas mengunjungi blog ini untuk belajar, berbagi ilmu pengetahuan dan informasi, serta saling bertukar pikiran dan saling membantu dalam proses belajar. Ayo...Belajar bersama di Elearning.Faqih.Net

Sponsor Kuliah Gratis»

Sabtu, 19 Desember 2009

Pendekatan Teori dan Metode Penelitian Psikologi Lingkungan

PENDEKATAN TEORI
A. LATAR BELAKANG SEJARAH
Membahas perihal teori-teori yang dikemukakan para ahli psikologi lingkungan, maka yang
terlibat adalah teori-teori, baik di dalam maupun di luar disiplin psikologi. Beberapa teori tersebut amat luas jangkauannya dan beberapa lagi yang lain lebih terfokus, beberapa amat lemah dalam data empiris dan beberapa yang lain amat kuat. Dalam kaitan antara lingkungan dengan perilaku manusia, maka kita dapat menyebut sejumlah teori dimana dalam perspektif ini, yang terlibat di dalamnya antara lain adalah geografi, biologi ekologi, behaviorisme, dan psikologi Gestalt (Veitch & Arkkelin, 1995).

Geografi. Beberapa ahli sejarah dan geografi telah mencoba menerangkan jatuh-bangunnya peradaban yang disebabkan oleh karakteristik lingkungan. Sebagai contoh, Toynbee (dalam
Veitch & Arkkelin, 1995) mengembangkan teori bahwa lingkungan (atau secara lebih
spesifik topografi, iklim, vegetasi, ketersediaan air, dan sebagainya) adalah tantangan bagi
penduduk yang tinggal di lingkungan tersebut. Tantangan lingkungan yang ekstrim akan
merusak peradaban, sementara tantangan yang terlalu kecil akan mengakibatkan stagnasi
kebudayaan. Lebih lanjut Toynbee mengusulkan bahwa tantangan lingkungan pada tingkat
menengah juga dapat mempengaruhi perkembangan peradaban. Pada tingkat yang makin
berkurang atau sebaliknya makin berlebihan hasilnya justru akan memperlemah pengaruhnya.
Gagasan mengenai tantangan lingkungan dan respon-respon perilakunya meski didasari oleh
para penganut geographical determinism, ternyata seringkali merupakan bentuk-bentuk atau
variasi-variasi teori yang diterapkan dalam psikologi lingkungan.
Sebagai contoh Barry, Child dan Bacon (dalam Veitch & Arkkelin, 1995) mengusulkan
bahwa kebudayaan masyarakat pertanian (yang tidak nomaden) ternyata menekankan pola
asuh pada generasinya berupa: tanggungjawab, ketaatan, dan kepatuhan. Sebaliknya pada
kebudayaan nomaden pola asuh yang ditekankan adalah pada kemandirian dan akal.
Perbedaan ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Pada kebudayaan pertanian, orang tinggal dan bekerja bersama-sama dalam suatu komunitas yang tanpa mobilitas yang tinggi,
sehingga yang dihasilkan adalah organisasi yang teratur. Hal tersebut tentunya akan lebih
menekankan pola asuh kepada ketaatan dan kepatuhan. Lain halnya dengan orang nomaden
yang lebih menyiapkan generasi mudanya untuk terbiasa dalam menghadapi situasi alam
yang berubah dan tidak dapat diramalkan pada saat menjelajahi alam, sehingga yang lebih
dibutuhkan adalah kemandirian dan akal. Berdasarkan keterangan-keterangan tersebut di
atas, maka dapat dikatakan bahwa suatu seting lingkungan tertentu memberi peluang yang
terbaik bagi masyarakat penghuninya untuk mempertahankan diri.
Biologi Ekologi. Perkembangan teori-teori ekologi menunjukkan adanya perhatian terhadap
adanya ketergantungan biologi dan sosiologi dalam kaitan hubungan antara manusia dengan
lingkungannya, dimana hal itu secara signifikan mempengaruhi pemikiran-pemikiran psikologi
lingkungan. Dengan perkembangan ilmu ekologi, seseorang tidak dianggap terpisah dari
lingkungannya, melainkan merupakan bagian yang integral dari lingkungan. Pendapat
mengenai hubungan yang saling tergantung antara manusia dengan lingkungannya pada saat
ini akan tampak pada teori-teori yang dikembangkan pada disiplin psikologi lingkungan.
Lingkungan dan penghuninya masih sering dikaji sebagai komponen yang terpisah, meskipun
tidak ada keraguan lagi adanya hubungan yang saling tergantung di antara mereka.
Behaviorisme. Pengaruh penting lain yang merupakan pemikiran yang datang dari cabang
disiplin psikologi sendiri adalah behaviorisme. Pemikiran kalangan behavioris muncul
sebagai reaksi atas kegagalan teori-teori kepribadian untuk menerangkan perilaku manusia.
Pada saat ini secara umum dapat diterima bahwa dua hal penting yang menjadi pertimbangan
adalah konteks lingkungan dimana suatu perilaku muncul dan variabel-variabel personal
(seperti kepribadian atau sikap). Dengan mempertimbangkan kedua hal ini maka akan lebih
dapatdiramalkan suatu fenomena manusiadan lingkungannya daripadajika dibuat pengukuran
sendiri-sendiri.
Psikologi Gestalt. Psikologi Gestalt berekembang pada saat yang berbarengan dengan
behaviorisme dan lebih menekankan perhatian kepada persepsi dan kognisi sebagai perilaku
yang tampak (overt behavior). Prinsip terpenting dari cara kerja kalangan Gestalt ini adalah
bahwa objek-objek, orang-orang, dan seting-seting dipersepsi sebagai suatu keseluruhan,
dimana hal itu lebih dari sekedar penjumlahan bagian-bagian. Dari pandangan Gestalt, suatu
perilaku didasarkan pada proses kognitif, yang bukan dipengaruhi oleh proses stimulus tetapi
dari persepsi terhadap stimulus tersebut. Pengaruh Gestalt pada psikologi lingkungan dapat
dilihat antara lain pada kognisi lingkungan, misalnya untuk menjelaskan persepsi, berpikir,
dan pemrosesan informasi lingkungan.
Dari beberapa perspektif di atas, Veitch & Arkkelin (1995) menekanlan adanya dua hal
yang perlu diketahui. Pertama, sebagaimanayang sudah disebutkan di atas bahwa pendekatan
yang dipakai pada perspektf-perspektif di atas ada yang amat lebar dalam cakupan dan ada
pula yang lemah dalam data empiris. Kedua, tidak ada grand theory dalam psikologi
lingkungan, karena tidak ada pendekatan atau perspektif tunggal yang dapat menerangkan hubungan antara perilaku manusia dengan lingkungannya secara memuaskan. Hal ini paling
tidak disebabkan oleh empat hal:
(a) Tidak ada data yang cukup tersedia dalam kaitan hubungan manusia dengan
lingkungannya, sehingga dapat dipercaya untuk menyatukan teori
(b) Hubungan-hubungan yang dikaji para peneliti amaat sangat beragam
(c) Metode yang digunakan tidak konsisten
(d) Cara pengukuran variabel tidak selalu kompatibel dari suatu seting penelitian ke
penelitian berikutnya.
B. BEBERAPA TEORI
Beberapa pendekatan teori dalam psikologi lingkungan antara lain adalah: Teori Arousal,
Teori Stimulus Berlebihan, Teori Kendala Perilaku, Teori Tingkat Adaptasi, Teori Stres
Lingkungan, dan Teori Ekologi.
1. Teori Arousal (Arousal Theory)
Arousal (Pembangkit). Ketika kita emosional, kita sering merasa bergairah. Beberapa teori
telah berpendapat bahwa semua emosi adalah hanya tingkat dimana seseorang atau binatang
dihasut. Meski tidak semua orang setuju dengan gagasan ini, tingkat keterbangkitan adalah
bagian penting dari emosi. Contohnya, tingkat yang tinggi dalam keterbangkitan adalah
dalam kemarahan, ketakutan dan kenikmatan, sedangkan tingkat keterbangkitan yang rendah
adalah kesedihan dan depresi (Dwi Riyanti & Prabowo, 1997).
Mandler (dalam Hardy dan Hayes, 1985) menjelaskan bahwa emosi terjadi pada saat
sesuatu yang tidak diharapkan atau pada saat kita mendapat rintangan dalam mencapai suatu
tujuan tertentu. Mandler menamakan teorinya sebagai teori interupsi. Interupsi pada masalah
seperti dikemukakan tadi yang menyebabkan kebangkitan (arousal) dan menimbulkan
pengalaman emosional. Suatu hal yang dapat kita petik dari teori ini adalah bahwa orang
dapat memperlihatkan perubahan emosi secara ekstrim, misalnya bergembira atau bergairah
pada suatu saat, dan mengalami perasaan dukacita atau amarah pada saat yang lain.
Arousal dipengaruhi oleh tingkat umum dari rangsangan yang mengelilingi kita. Kita
dapat saja menjadi bosan atau tertidur, jika yang kita hadapi adalah hal-hal yang "tidak ada
apa-apanya". Suatu materi pelajaran yang tidak menarik dan sedikit sekali memberi manfaat
pada yang mendengarkan, membuat hampir semua yang mendengarkannya tidak bertahan
lama mengikutinya. Menurut Mandler, manusia memiliki motivasi untuk mencapai apa yang
disebut sebagai"dorongan-itemg//um0to/j0/m^^
arousal sehingga kita dapat berubah-ubah dari aktivitas satu ke aktivitas lainnya. Hampir
semua orang yang memiliki motivasi ini dalam berinteraksi sehari-hari, namun ada beberapa
orang yang tidak responsif terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di sekelilingnya,
sehingga hanya dapat dimunculkan arousal-nya jika benar-benar dalam keadaan yang amat
membahayakan. dst----------------------------------------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk membaca artikel di atas secara lengkap, silahkan download melalui link ini. Klik skip ads    bila muncul iklan.

0 comments:

Poskan Komentar

 

Welcome

Pasang Banner KuliahPraktis.com di Blogmu




Archieves

Followers

About Administrator

Foto Saya
Faqih Al
My name is Faqih. I live in small town in Indonesia. 
I like to do something that others do not, and works with different ways.

If you want to know more about me, just visits my blog www.faqih.me.
Lihat profil lengkapku